Episode Lampung : Sebesi, Hati-Hati Bicara Tanah

Posted by : Kurniawan Aji Saputra December 19, 2013 Category : Keliling Sumatera Luar Dalam

Kalianda adalah kota pertama yang saya kunjungi. Setelah naik kereta ekonomi dari Tanah Abang ke Merak tadi pagi, lanjut ferry ke Bakauheni, terus pakai bus arah Tanjung (Bandar Lampung), turun di Kalianda. Baru sampai sorenya.

Yang bikin gak asik, tarif bus dari Bakauheni ke Tanjung itu disamain dengan ke Kalianda, padahal jaraknya setengah pun gak nyampe. Saya cuma kasih Rp 12 ribu (dia minta Rp 15 ribu, sama dengan tarif ke Bandar Lampung). Rupanya kata orang-orang memang begitu. Jauh dekat ya lima belas ribu. Berani juga saya waktu itu, sampe pasang suara keras demi tiga ribu perak. Haha.

Tidak ada cerita tidur di penginapan. Saya cari masjid, izin dengan pengurus masjidnya, terus tidur di Kalianda.

Besoknya saya tracking dari Kalianda ke Canti (sekitar 10 km). Setiap orang yang saya tanya “Canti lewat mana?” Selalu di awal bilang, naik ojeg saja. Dan mereka semua kaget waktu saya bilang mau jalan kaki. Tapi di tengah jalan ada yang ngasih tebengan, seorang wartawan lokal. Dia antar saya sampai depan Dermaga Canti. Asik!

Setengah lusin kapal rutin wara-wiri dari Dermaga Canti ke Pulau Sebesi. Dari Canti pukul 14 siang dan dari Sebesi pukul 7 pagi. Tiketnya Rp 15.000. Saya naik kapal Batang Hari dari Canti (setiap kapal punya nama, baik ditulis maupun tidak. Batang Hari adalah salah satu kapal yang rutin jalan dari Canti ke Sebesi dan pulau-pulau sekitarnya). Atas kemurahan hati Kapten Chandra sang nahkoda, saya bisa nebeng gratis! Dan juga besoknya pas balik lagi ke Canti. Ahay!

Di dalam kapal, saya ketemu Pak Sekdes (Sekretaris Desa) yang baru mau pulang ke Sebesi. Kami ngobrol dan ketawa bareng.

“Kok harus ke Canti, kalau di-email saja kenapa, Pak?”

“Hahaha… Boro-boro email bang, komputer aja gak ada. Jadi kalau ada urusan fotokopi, ya kita nyebrang. Ada apel pagi, kita nyebrang. Mau nge-print, kita juga nyebrang, bang…”

“Wuih… mahal dong pak bolak-balik. Tapi ada duit plus-plusnya kan pak?”

“Mana ada. Kita habis sejuta sendiri sebulan buat ongkos bolak-balik bang. Kalau orang Pemda kan ada SPJ, kita mana ada bang. Tapi Alhamdulillah saya sudah diangkat jadi PNS, satu-satunya PNS di Pulau Sebesi. Setelah 9 tahun honorer, akhirnya diangkat juga. Eh, ngomong-ngomong, mau ke tempat siapa bang di Sebesi?”

“Di Sebesi ada masjid kan pak?”

“Ah, si abang repot amat. Ikut saya aja. Di rumah ada tempat. Nanti kalau mau jalan-jalan, ada motor Jupiter, wuzzzz (sambil menggerakkan tangan sejauh-jauhnya, menegaskan bahwa Jupiter itu bisa ngebut)…”

Setelah pura-pura menolak, akhirnya saya pura-pura takluk. “Oke deh pak, saya ikut!”

Penjabaran “di rumah ada tempat” itu maksudnya dikasih kamar dengan kasur besar, dikasih makan malam, dan dikenalin ke Haris, tokoh pemuda lokal. Semuanya gratis! Haris langsung ngajak saya ke salah satu spot oke -yang saya lupa namanya- buat snorkling. Dia kasih saya pinjaman snorkeler dan fins.

Sore itu juga kami langsung “berenang” –istilah Haris untuk nyelam sambil nyari ikan. Dia bawa semacam tombak yang ditempeli besi tajam. Di ujung besi itu ada semacam mata panah supaya ikan tersangkut setelah kena panah. Setiap sore kerjaannya ya begini ini. Jadi wajar kalau dia bisa tahan menyelam lama dan dalam pula.

Sementara saya masih kelabakan dengan berenang di laut tanpa life vest, Haris sudah kebanyakan hilang dari permukaan, menukik ke dalam. Biasanya snorkeling selalu pakai life vest kan ya? Tapi namanya juga gratis, masa saya sudah dikasih snorkeler dan fins gratis, masih mau minta life vest lagi. Kurang ajar banget.

Haris dapat 1 ikan barakuda. “Masss….” sambil nunjukin hasil bidikannya. Edan! Saya langsung mendekat dan pegang ikan yang kejang-kejang lagi sakratul maut itu. Perutnya sudah bolong. Duh, gak tega rasanya.

Gak lama kemudian, Haris teriak lagi, “Maaass…” Kali ini ikan berwarna-warni.

Saya coba perhatikan, di mana si Haris taruh ikan barakuda yang pertama tadi. Saya pura-pura ikutin berenang dari belakang. Di tangannya gak ada. Di tombaknya cuma ada ikan warna-warni itu. Agak lama baru saya sadar barakudanya diselipin ke celana pendeknya, jadi seperti naruh pistol aja begitu.

Jadi hari ini Haris dapat dua ekor.

“Ini sih biasa. Kadang bisa lima lebih, mas.”

“Terus, dijual apa dimakan Ris?”

“Yang ikan warna-warni ini mah amis banget mas, dikasih orang juga gak mau. Amisnya, week!”

Lo lo lo loooh, terus ngapain ditombak to mas Haris, kan kasihan ikan lucu begitu perutnya bolong.

Wawasan lingkungan kelihatannya kurang di sini. Mereka bukannya tidak mau ikut menjaga laut, tapi tidak tahu caranya atau tahu caranya tapi cara itu mahal atau ribet. Beberapa kali saya lihat Haris menginjak karang hidup. Dengan mudah saya temui tumpukan karang mati di depan rumah warga, untuk bahan dasar pondasi rumah.

Di tempat kami snorkeling ini, saya tidak ketemu satupun bulu babi. Kata kawan saya yang orang kelautan, bulu babi itu makan karang, jadi karang itu sehat dan bakal aman kalau tidak ada bulu babi. Haris bilang, bulu babi ini cuma banyak di dekat Dermaga, selebihnya tidak ada.

Ikan itu numpuk. Gampang banget kelihatan ikan. Beberapa kali segerombolan ikan kecil nyerempet perut saya. Ada momen selama beberapa menit, segerombolan ikan itu berjarak satu meter dari tubuh saya, putar-putar di situ saja. Kalau sudah begini, saya tidak rela membuat gerakan walau kecil, takut membuat mereka takut. Saya ingin mereka terus berenang di sekeliling saya.

Baru satu jam berenang saja sudah membuat saya ngos-ngosan begini. Haris kelihatan santai saja. Padahal dia semenit sekali menyelam. Saya menyerahlah, saya ajak Haris balik. Kami berpisah.

Sampai rumah Pak Sekdes, saya berkenalan dengan istrinya yang seorang guru SMP dan SMA. Guru Bahasa Inggris.

“Wah, hebat dong bu, jago Bahasa Inggris.”

“Ah enggak, ini mah dibisa-bisain aja. Hehe. Abis mau cari guru dari luar pulau mana mau digaji kecil. Jadi cari yang ada di pulau aja.”

“Itu kan sekolah yayasan bu. Selain dari SPP anak-anak, gaji guru kan bisa juga diambil dari duit yayasan?”

“Itu dulu, waktu Pak Walikota aktif, sering kasih. Kan udah lama pensiun. Tapi ada sih kebun pisang yayasan buat nambal gaji guru.”

“Memang SPP murid berapa bu? Total ada berapa murid?”

“Ya paling sekitar Rp 30.000 sebulan. Muridnya gak tentu mas, kadang sampai 30, kadang cuma 6 orang aja. Ya namanya juga cuma sepulau ini mas.”

Selanjutnya saya baru tahu gaji bu Sekdes sebagai guru itu Rp 800 ribu yang itu dari SPP dan hasil kebun pisang! Padahal itu sudah mengajar di dua sekolah (SMP dan SMA) dari pagi sampai sore dan sudah termasuk garis-garisin buku raport murid waktu malam (sekolah tidak memfasilitasi buku raport siap pakai, jadi pakai buku kosong yang “dipaksa” jadi buku raport).

Pak Sekdes mengajak saya makan di rumahnya yang sederhana. Di meja ada nasi dan ikan masak kuah. Ikannya besar-besar dan dimasak dengan sangat enak! Kalau tidak ada tamu, jarang dimasak begini. Saya tanya ke Pak Sekdes, “Kenapa sih pak, tadi di kapal baru ngobrol 5 menit, saya sudah ditawari nginap, dikasih makan malam spesial pula?”

“Saya cari saudara, bang.”

“Saya belum pernah nemu orang baik begini di Jakarta pak.”

“Jakarta? Hehe. Susah Jakarta mah.”

Beres makan, saya pamit tidur. Berenang di laut itu sangat menyedot energi. Sialnya, nyamuk itu ya, tidak berhenti-berhenti menyanyi. Saya tutup kepala pakai sarung mereka main di kaki. Saya tutup kaki mereka main di kuping. Ugh! Pasrah lah…

Sekitar jam dua pagi, saya terbangun dan dengan jelas saya dengar semacam suara orang ngorok di sebelah kamar. Persis di balik tembok kamar yang saya tempati itu adalah jalan setapak yang umum orang lewat. Saya kaget bukan main, keringat dingin. Bukan takut hal-hal mistis, tapi saya teringat cerita seorang warga tadi sore, bahwa di atas sana masih banyak babi liar. Itu kenapa banyak anjing berkeliaran di perkampungan, buat kasih tahu kalau ada babi yang mau menyeruduk.

Tidak lama kemudian, saya dengar suara lolongan anjing. Panjaaang banget. Saya tidak bisa tidur dengan tenang lagi dan tidak mau membuat gerakan apapun. Takut tiba-tiba ada babi yang menyeruduk pintu kamar yang cuma terbuat dari kayu itu. Babi hutan itu kuat dan kayu jelas kalah. Mudah-mudahan itu cuma perasaan saya saja, bahwa babi liar turun ke kampung waktu malam. Tapi suara semacam ngorok itu sesekali benar-benar jelas.

Pagi-pagi saya bangun terpaksa dengan kurang segar, kurang tidur. Kapal jam tujuh pagi tetap harus dikejar. Saya tidak mau terlalu lama di sini.

Kapal Batang Hari yang saya tumpangi kemarin sudah penuh dengan pisang. Separuh lebih kapal isinya pisang. Pisangnya masih hijau-hijau tapi sudah manis. Ada lima ratus tandan dalam kapal. Ya itu biasa di Sebesi. Pisang, cokelat, dan petai jadi tiga komoditas “ekspor”-meminjam istilah Pak Sekdes.

Harganya kalau beli di kapal ini, sekitar Rp 10.000 – Rp 12.000. Petai harganya fluktuatif, antara Rp 30.000 – Rp 60.000 per 100 untai. Orang-orang di kapal ini, penumpang yang terutama pemuda, asik saja makanin pisang, entah sudah izin atau belum. Dengan santai mereka buang kulit pisang ke laut. Payah!

Kapal, sebelum sampai ke Canti, mampir di dua tempat di Pulau Sebuku. Kapal merapat begitu saja di pinggir pantai (tidak sampai daratan). Penumpang dari Pulau Sebuku yang mau ikut ke Canti harus gotong komoditas pertaniannya sendiri ke atas kapal, setelah basah-basahan se-pinggang.

Mayoritas mereka adalah petani cokelat. Saya ngobrol dengan seorang bapak yang ada di sebelah saya. Dia bawa cokelat beberapa karung untuk dijual di Kalianda.

“Boleh ya pak garap tanah di Sebuku.”

“Boleh. Tanah di sini subur. Gampang.”

“Sertifikat tanahnya ada pak?”

“Ada.”

“Cap pemerintah?”

“Oo pemerintah gak keluarin. Ada cap Singa Brata. Pokoknya kalau ada rapat pulau, kita punya surat cap Singa Brata, pasti menang.”

“Singa Brata itu apa sih pak?”

“Itu dari nenek moyang. Di dalam ditulis Pulau Sebuku itu yang megang si anu si anu si anu.”

“Memang tanah di pulau boleh dijual pak?”

“Kemarin saya lihat ada plang tulisannya tanah tidak diperjualbelikan.”

“Jadi bapak tahu ya?”

“Masyarakat sini tahu dan mau bayar pajak, asal dapat sertifikat.”

“Nah, itu yang sulit.”

Masalah tanah menjadi api dalam sekam di Pulau Sebuku dan Sebesi. Berbicara tentang tanah berarti membuka suatu hal supersensitif yang bisa melibatkan darah. Ini kesimpulan saya setelah bicara dengan sedikitnya tiga orang yang sudah tahunan ada di Sebesi dan Sebuku.

 

Cerita perjalanan ini diambil dari buku Keliling Sumatera Luar Dalam



Web programmer Kontan (Koran bisnis mingguan. Memuat berita investasi, keuangan, data pergerakan saham, dan trend bisnis) and Backpackin Magazine (Majalah Backpaker Indonesia) . Taking great interests
Read more about Kurniawan Aji Saputra

You might like:

Comments

© Copyright 2019. trackpacking.com