Forgot Password?
|

Prabumulih : Rumah Anti Pening

Posted by : Kurniawan Aji Saputra February 11, 2014 Category : Keliling Sumatera Luar Dalam

Saya sempatkan jalan pagi di kota Prabumulih. Baru keluar dari masjid tempat saya tidur, saya langsung ketemu jamu. Sama persis dengan penjual jamu yang banyak di Jawa: pakai sepeda dengan botol-botol jamu di bagian belakang. Pilihan jamunya juga sama, ada beras kencur, ada jamu pahit. Ibu penjualnya dari Jawa tapi logatnya sudah kental Palembang. Saya tanya, ini jamu ramuan Jawa atau Prabumulih Bu? “Ya Jawa. Prabumulih mana ado.”

Pagi-pagi begini banyak penjual nasi uduk di pinggir jalan. Nasi uduknya sama persis dengan yang kebanyakan ada di Jakarta: nasi + bihun + orek tempe + sambal. Pilihan tambahannya: telur dan macam-macam gorengan (pisang goreng, risol, tempe, dan bakwan).

Nasi uduk ini laris manis. Banyak ibu-ibu yang biasanya masak sendiri di rumah, mungkin karena repot, dia beli nasi uduk. Mungkin juga harganya terbilang murah, cuma Rp 5.000. Iya, segitu hitungannya murah di sini. Walaupun di Jakarta nasi uduk tiga ribuan juga banyak. Kalau sudah siang, tidak ada lagi nasi uduk. Yang ada warung padang.

Sepanjang saya jalan kaki hampir satu jam, tidak ada satupun saya temukan warteg (warung tegal) yang biasanya jual makanan murah meriah. Saya malah nemu beberapa warung kecil yang jualan pempek. Di kaca etalase tertulis: Bakso Rp 6.000, Pempek Telur Rp 5.000, Pempek Lenjer Rp 4.000, Model Rp 4.000, Tekwan Rp 3.000. Model itu semacam pempek juga, ada lapisan telurnya. Saya juga tidak terlalu jelas.

Beberapa penjual surat kabar cuma menjajakan beberapa koran lokal: Sumatera Ekspres (Sumeks), Palembang Pos, dan Prabumulih Pos. Koran-koran nasional hanya bisa didapatkan di agen-agen besar. Itu jelas karena pasar maunya begitu. Tapi kenapa pasar milihnya yang itu?

Saya datang ke seorang bapak yang sedang baca koran di teras rumahnya dan ngobrol sedikit.

Biasanya korannya baca apa pak?

“Prabumulih Pos, Sumeks, Sriwijaya Pos, Palembang Pos. Itulah yang besar-besar.”

Kalau Kompas memang kenapa?

“Gak masuk sini. Mungkin gak terjangkau harganya. Mahal kan. Buat rakyat Prabumulih sini lebih terjangkau koran-koran itu harganyo dan lebih senang berita daerah. Berita Jakarta tu, ya cukup dari baca Sumeks itu lah.”

Rumah-rumah di sini banyakan dua tingkat model begitu ya pak?

“Ya gitu lah. Yang atas biasanya buat tidur, yang bawah ada yang bikin warung kalau rumahnya di pinggir jalan, ada yang dibuat garasi, ada yang di atas tempat orang tua di bawah tempat anak. Itu kalau di dalam kampung ya, seperti dusun Prabumulih.”

Dipisah begitu kenapa pak?

“Biasanya orang tua tu tak tahan pening oleh anak-anak cucu-cucunya tu, jadi pisah. Yang tua ke atas. Gak terganggu kalau ke atas itu. Tapi ada juga yang campur. Kalau anaknya banyak rumahnya belum ada ya rumah tu dipetak-petak dibuat kamar.”

Tangga rumahnya selalu di luar?

“Kebanyakan di luar. Kalau zaman-zaman dulu itu di luar. Baru sekarang-sekarang ini di dalam. Itu karena untuk menghemat tempat. Seperti saya ini, kita biarkan tangga di luar.”

Jadi dua tingkat ini seakan-akan dua bangunan berbeda?

“Seakan-akan begitulah. Umumnya di Prabumulih rumah-rumahnya dua tingkat. Yang satu satu tingkat ini baru. Kalau di dusun-dusun, di pelosok-pelosok, itu kebanyakan bawah ini gak dimanfaatkan. Banyak yang belum dibeton. Kosong begitu aja. Kalau dia punya anak banyak baru dibangun bawahnya buat anak.”

Saya perhatikan bangunan paling megah bangunan DPRD Kota Prabumulih ini ya pak?

“Ya di kota inilah paling megah. Ada satu lagi kantor Pemkot, jauh di sana. Yang besar-besar dua bangunan itu aja. Hotel gak sebesar itu. Pemerintah ini ndak banyak bangunannya.”



Web programmer Kontan (Koran bisnis mingguan. Memuat berita investasi, keuangan, data pergerakan saham, dan trend bisnis) and Backpackin Magazine (Majalah Backpaker Indonesia) . Taking great interests
Read more about Kurniawan Aji Saputra

Comments

About us

Trackpacking.com adalah social network dimana kamu dapat sharing foto, cerita, peta, komunitas dan perjalananmu pada teman-teman. Dan kamu juga dapat melihat peta, track, hobi, foto, komunitas atau perjalanan dari orang lain. Ayo bergabung!
Copyright 2017. trackpacking.com

Subscribes