Forgot Password?
|

Pagaralam 2: Jamur Wisata

Posted by : Kurniawan Aji Saputra June 2, 2014 Category : Keliling Sumatera Luar Dalam

"Sampeyan tahu gak kenapa disebut Gunung Gare? Begare itu bahasa sini artinya pacaran. Di sini dari dulu sampai sekarang banyak orang pacaran, sampai 'tenggelam' ke kebun-kebun teh. Tapi Pol PP sekarang sudah canggih, sudah ada CCTV di tiap pohon teh," jelas Budi (bukan nama sebenarnya) yang jelas-jelas bercanda.

 

Saya kenal Budi baru kemarin. Dia seorang loper koran umur 23 tahun. Dialah yang bikin saya bisa muter-muter setumpuk tempat wisata di Pagaralam.

 

Kemarin sore, saya diajak ke Danau Tebat Gheban, sekitar 3 km dari kota. Danaunya enggak banget. Lumut numpuk hampir di seluruh permukaan. Saya cuma putar sekali langsung balik. Mending saya tidur.

 

Paginya, Andi ajak saya jalan-jalan ke Cughup Embun dan Cughup Mangkok. Kalau kata Budi, orang Pagaralam lidahnya agak susah ngomong curug, jadi keluarnya cughup, dan di plang depan tempat wisatanya memang tertulis cughup.

 

Dua-duanya luar biasa bagus, terutama karena saya pengunjung satu-satunya. Dari parkiran ke Cughup Embun, saya harus menuruni tangga yang lumayan bikin ngos-ngosan. Kalau dingin begini, energi cepat habis.

 

Dulu waktu di Bogor, beberapa kali saya main ke curug-curug, tapi lupa namanya. Semua yang saya kunjungi di Bogor itu gak ada apa-apanya dibanding Cughup Embun. Tingginya mungkin sekitar 50 meter. Tebing-tebing di sekeliling Cughup Embun makin bikin suasana makin dahsyat. Budi tidak ikut turun karena dia mau jaga motor aja katanya. Tadinya saya mau mandi, tapi kasihan Budi nunggunya lama. Pas saya naik, Budi ngomong, "Baru saya mau turun." Argh!

 

Kami lanjut ke Cughup Mangkok. Di sini motor bisa masuk sampai area air terjunnya, jadi tidak perlu jalan kaki menuruni tangga yang melelahkan seperti tadi. Saya gak kuat, pengen langsung berenang. Saya tanya ke penjaga air terjunnya –setelah bayar Rp 2.000/orang- berapa dalamnya pak? "Ooh dalam, 20 meter!"

 

Saya cuma berenang di pinggir-pinggirnya. Sebetulnya saya bisa dan biasa berenang, tapi saya takut di air dingin begini otot bisa tiba-tiba kaku. Budi tidak bisa berenang. Si Bapak penjaga pintu –kalaupun dia bisa berenang- saya kalkulasi butuh waktu lebih dari 3 menit untuk proses: mendengarkan suara teriakan Budi, mengubah pendapatnya dari "ah hanya main-main" menjadi "ih, kayaknya beneran tenggelam deh", lari dan berenang, lalu menyelamatkan saya. Wah, saya sudah koit duluan. Jadi intinya saya gak punya mental.

 

Puas berenang, Budi ajak saya ke Tangga 1.000. Ini adalah tangga panjang yang dibuat –katanya oleh- Megawati untuk bisa mempermudah orang mencapai puncak gunung. Mungkin mau dibuat tangga sampai puncak seperti di Gunung Kubu di Curup kali ya.

 

Itu dilakukan Megawati dalam rangka menggaet hati warga Pagaralam agar memilihnya menjadi presiden. Rupanya Megawati kalah. Pembangunan tangga 1.000 terbengkalai begitu saja. Jadi tangganya terkesan buntung. Untung di kiri kanan sepanjang tangga penuh dengan kebun teh dan rerumputan hijau, jadi mendinganlah.

 

Siangnya, saya menuju Situs megalitik Tegur Wangi, sekitar 3 km dari kota. Sebetulnya saya tidak tertarik dengan situs megalitik. Tahun berapa zaman batu itu saja saya tidak tahu. Tapi kok banyak betul orang ke sana, termasuk bule-bule.

 

Sampai di sana saya ketemu dengan seorang pemuda yang sedang mengangkut gabahnya. Namanya Pengki (e nya pakai e bebek, bisa digampar kalau pakai e telur). Situs megalitik tersebar di hamparan sawah yang dia kelola.

 

Ini bang Pengki yang jaga?

"Iya."

Memang dulu pernah ada kejadian kemalingan batu megalitik bang?

"Belum pernah."

Apa ada yang ngincer batu begini bang?

"Gak ada."

Lah, terus ngapain dijaga?

 

Saya isi buku tamu yang sampulnya berlogo Kemenbudpar itu. Lumayan ramai juga loh yang datang ke sini. Kata Pengki, kalau bule itu seringnya dari Jerman.

 

Lanjut saya ke Situs Tanjung Aro, juga tidak jauh dari kota. Isinya ya batu-batu begitu juga. Sama-sama di tengah sawah, yang satu lagi di tengah-tengah rumah penduduk. Saya tidak tertarik sama sekali.

 

Cuaca di Pagaralam ini siluman sekali. Sangat tidak jelas jadwal hujannya. Jadi di hari ketiga, yang tadinya rencana mau jalan-jalan pagi, terpaksa ditunda sampai siang.

 

Saya diajak Andi ke Cughub Tujuh Kenangan yang pernah diliput salah satu stasiun TV swasta. Dibanding air-air terjun yang saya kunjungi di Pagaralam, ini yang terbaik. Untuk ke sana, kami harus jalan kaki dari rumah warga tempat kami menitip motor, melewati kebun-kebun kopi, kira-kira perjalanan setengah jam. Tidak ada satupun penunjuk arah. Jalannya kecil dan ada beberapa belokan yang membingungkan. Kalau tersesat di sini susah juga karena tanaman-tanamannya tinggi-tinggi, jadi susah melihat ke mana-mana.

 

 

Cughub Tujuh Kenangan waktu itu deras sekali. Ini yang terderas buat Andi yang sudah beberapa kali ke sini. Saya beruntung sekaligus sial. Beruntung karena jarang-jarang dapat air deras. Sial karena saya tidak bisa berenang di bawah air terjunnya langsung. Arus terlalu deras dan batu-batu terlalu licin. Bahaya kalau dipaksa.

 

Rendam-rendam kaki cukuplah, sambil merasakan sentuhan embun-embun serpihan air terjun menempel di muka saya. Mudah-mudahan lain kali saya bisa berenang di sini.

 



Web programmer Kontan (Koran bisnis mingguan. Memuat berita investasi, keuangan, data pergerakan saham, dan trend bisnis) and Backpackin Magazine (Majalah Backpaker Indonesia) . Taking great interests
Read more about Kurniawan Aji Saputra

Comments

About us

Trackpacking.com adalah social network dimana kamu dapat sharing foto, cerita, peta, komunitas dan perjalananmu pada teman-teman. Dan kamu juga dapat melihat peta, track, hobi, foto, komunitas atau perjalanan dari orang lain. Ayo bergabung!
Copyright 2017. trackpacking.com

Subscribes