Menuju Papuma

Posted by : Tantri Herdiyani August 17, 2012 Category : CatPer

 

Kalau ada yang gogling dengan keyword Papuma, pasti muncul foto yang kebanyakan adalah garis pantai dengan gunung tebing di salah satu sisinya. Kalau dilihat sekilas, Papuma ini mirip Wayag, gugusan gunung tebing di atas laut lepas yang ada di Papua. Tapi Papuma tidak terletak di Papua, meski namanya hampir mirip, Papua – Papuma, melainkan berada di Kota Jember, tepatnya di Desa Ambulu, sekitar 45 menit dari kota Jember. Dan memang jauh lebih bagus Wayag. Akses menuju Pantai Papuma juga tidak terlalu sulit seperti kebanyakan pantai selatan lain. Melewati desa yang tidak terlalu ramai, jalan datar, kemudian masuk dalam kawasan hutan jati dan lima belas menit kemudian sampailah di Pantai Papuma. Disini saya memakai perbandingan dengan Pantai Balekambang dan Pantai Sendangbiru yang akses nya harus naik turun gunung dan jarang penduduk.

 

Ternyata Pantai Papuma ini letaknya dekat dengan Pantai Watu Ulo. Setibanya di pertigaan, belok kanan adalah Papuma dan belok kiri adalah Watu Ulo. Menarik, dalam satu wilayah terdapat dua objek wisata sekaligus. Karena langit yang sudah gelap dan jarum jam tangan saya menunjuk pada angka 6, maka saya langsung menuju Pantai Papuma untuk istirahat, ke Watu Ulo bisa besoknya saja. Setelah membayar tujuh ribu untuk sekali masuk, saya membaca papan peringatan 'masukkan gigi satu', wah ini pasti jalannya nanjak dan ternyata benar. Pepatah berakit-rakit dahulu bersenang-senang kemudian berlaku mulai dari sini. Bersusah menanjak dahulu, panorama cantik kemudian.

 

Papuma dalam pikiran saya adalah sebuah pantai yang belum terlalu banyak pengunjungnya, jadi masih asli pantai dan warung kecil sebagai pelengkapnya. Jalan mulai menurun, terdengar suara aba-aba dari pengeras suara, terlihat cahaya lampu yang jumlahnya banyak, dan ketika roda motor saya memasuki pelataran parkir, terdapat beberapa mobil, bis mini dan motor. Praduga saya salah, Papuma benar-benar tempat wisata! Beberapa cottage ada di sisi kiri, tenda dome berjejer di lapangan sebelah kanan, pos out bond ada di dekat cottage, warung nya pun lebih dari sepuluh. Wah, ramai.

 

Karena perut sudah lapar, saya mampir di warung depan pantai. Mayoritas warung di Papuma menyediakan ikan bakar. Iseng saya tanya ke pemilik warung, harga ikan rata-rata 50 ribu – 75 ribu, ada ikan kakap, baronang, nila dll. Karena sudah jauh-jauh ke Jember, masa mau makan mie goreng sih, meski agak mahal okelah saya pilih ikan bakar. Beberapa menit kemudian, ikan baronang sudah tersaji di depan saya, lengkap dengan nasi putih, lalapan dan 2 macam sambal. Rasanya juga lumayan enak. Bumbu ikannya manis. Sayang tidak ada sambal pencitnya.

 

Tidur dimana sekarang? Pertanyaan yang tiba-tiba muncul dalam benak saya ketika kekenyangan dan ingin mengistirahatkan raga. Biaya cottage antara 100 ribu – 400 ribu, sewa tenda 50 ribu, mau tidur di pantai takut kebawa ombak. Mata saya langsung melirik bale-bale bambu yang ada di depan warung. Boleh nih buat tidur. Berbekal basa-basi dengan pemilik warung, akhirnya saya tidur di bale-bale beralaskan karpet. Strategi pengiritan berhasil.

 

Besoknya, mata saya memicing silau. Sudah pagi rupanya. Tas dititipkan ke pemilik warung dan saya bergegas menuju bibir pantai untuk melihat view Papuma. Pasirnya putih dan airnya biru jernih, ditambah lagi ada aurora yang menghias pagi. Perpaduan yang cantik. Tidak lupa mengabadikan lewat Nikon saya. Matahari semakin terik, pengunjung semakin ramai dan jiwa narsis semakin kuat, maka saya menyusuri sepanjang Pantai Papuma dan Malikan. Pantai Malikan ini berada di sisi barat Papuma, pantainya lebih sepi dan banyak batu-batu. Memori Nikon saya masih bisa menyimpan beberapa giga lagi untuk mengabadikan saya, Papuma dan Malikan.

 

Kalau kesana coba deh 'sksd' dengan pemilik warung, selain bisa dapat tempat inepan gratis (bagi yang ga bermasalah dgn tidur ala kadarnya) juga dapat cerita mistis seputaran Papuma :D

 

 




Read more about Tantri Herdiyani

Comments

© Copyright 2019. trackpacking.com