Mentawai, Hawainya Indonesia (2)

Posted by : Dewi Ratnasari January 8, 2013 Category : CatPer

Dari Pulau Siberut, saya beranjak ke Pulau Simakakang yang konon memiliki pantai yang sangat indah. Pulau Simakakang merupakan salah satu pulau kecil di Kepulauan Mentawai. Namun, belum cukup banyak orang yang tahu tentang indahnya pantai di Pulau Simakakang karena memang akses dan juga promosi wisata yang sangat kurang. Pulau-pulau ini justru dikunjungi banyak wisatawan asing daripada wisatawan Indonesia.

Untuk menuju ke Pulau Simakakang, saya naik kapal laut dari Pelabuhan Tuapejat. Hanya ada kapal cepat atau speedboat untuk menuju ke Pulau Simakakang. Kapal cepat ini berharga cukup mahal yaitu Rp 2.000.000 dengan kapasitas maksimal penumpang adalah 10 orang. Jadi semakin banyak yang naik, semakin murah harga sewanya, begitu juga sebaiknya. Butuh waktu sekitar 10 hingga 30 menit untuk mencapai Pulau Simakakang dari Pelabuhan Tuapejat.

Maka tibalah saya di Pulau Simakakang. Banyak turis asing yang justru mengunjungi pulau ini. salah satu resort terbesar dan terkenal di pulau ini adalah Alloyta Resort milik seseorang dari Italia. Resort ini merupakan resort favorit para wisatawan. Memang ada beberapa resort lokal milik penduduk yang berupa rumah-rumah penduduk. Namun, fasilitas yang dimiliki Alloyta Resort nampaknya lebih mengundang keinginan saya untuk menginap disini. Selain resort, Alloyta juga menyediakan tempat spa, bar, restoran, serta fasilitas olahraga air seperti diving, surfing, serta memancing.  

Harga yang ditawarkan di Alloyta Resort pun tentatif, tergantung waktu kunjungan. Pada saat saya kunjungan kebetulan bukanlah waktu favorit kunjungan para wisatawan sehingga harganya miring. Harga di resort ini adalah 200 $ untuk turis asing dan Rp 500.000 untuk wisatawan dalam negeri. Keselurruhan harga ini adalah sudah all in yaitu termasuk makan, sewa bungalow, menyelam, dan surfing). Sementara itu, bulan favorit para wisatawan adalah bulan April hingga Oktober. Pada bulan-bulan itu, harga resort akan sedikit lebih mahal karena di bulan-bulan itulah cuaca dan ombak di Pulau Simakakang sangat bagus dinikmati.

  Di Pulau Simakakang saya bisa menikmati pantai pasir putih yang sangat indah. Apalagi ombak di pantai ini memang terkenal bagus. Bahkan ada yang bilang, ombak di Pulau Simakakang jauh lebih bagus dari Hawai. Jika ombaknya sedang bagus, para peselancar sangat suka untuk berselancar di pantai ini. ombaknya pun memiliki nama-nama tersendiri, salah satunya adalah ombak makaroni yang bergulung indah menyerupai sebuah makaroni. Selain aktivitas surfing, wisatawan juga bisa berenang atau menyelam di tempat ini. Pantainya dengan pasir putih yang indah memang sangat tepat untuk dinikmati, apalagi memang ada spot-spot khusus yang bisa digunakan untuk menikmati indahnya pantai sambil berjemur.

Namun, belum populernya wisata di Kepulauan Mentawai membuat belum berkembangnya potensi-potensi wisata di sini. Makanan yang dihadirkan oleh Alloyta Resort pun masih sebatas makanan laut dan makanan internasional. Makanan khas Pulau Simakakang ataupun Kepulauan Mentawai belum bisa dihadirkan disini. Inilah yang mungkin menjadi pekerjaan rumah Dinas Pariwisata setempat untuk lebih mengembangkan potensi-potensi wisata yang ada di Kepulauan Mentawai ini.

Walaupun tak ada makanan khas Mentawai yang bisa dinikmati di sini, namun ada makanan unik yang tak luput dari perhatian saya yaitu mi instan. Mengapa mi instan? Padahal kalau dipikir mi instan kan memang makanan yang selalu ada di pantai-pantai. Namun, mi instant yang saya temui ini berbeda karena di dalamnya  dicampur kerupuk merah khas Padang. Mi instant yang seperti inilah yang jarang ditemui oleh saya.

Setelah puas di Pulau Simakakang, saya kembali ke Pulau Sipora menggunakan kapal cepat. Di Pulau Sipora, saya menginap satu hari di sebuah resort. Saran saya untuk wisatawan yang akan menginap di Pulau Sipora adalah menginaplah di penginapan resmi Dinas Pariwisata karena selain harganya yang terjangkau (tidak dimahalkan) juga dari segi bangunan dan fasilitas lebih nyaman dan lengkap. Tarif menginap satu hari di sini adalah Rp 350.000.

Setelah menginap di Pulau Siberut, tibalah saatnya saya kembali ke Padang lalu ke Jakarta. Untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda, saya kembali ke Padang melalui jalur laut yaitu menaiki KMP Ambu-Ambu dari Pelabuhan Tuapejat. Oh ya, saya juga menyarankan untuk wisatawan yang akan mengunjungi Kepulauan Mentawai, jangan lupa untuk membawa pil kina karena di sini memang daerah endemik malaria.

Selamat berpetualang dan semoga menyenangkan!

 

Ditulis oleh Dewi Ratnasari seperti yang diceritakan oleh Ollie Aulia, Reporter TV One



Tuhan, tolong jangan butakan mata hati saya untuk mengejar sesuatu yang saya ingini tapi terlalu jauh saya gapai. biarkan saya melihat bahwa di dekat saya ada orang yang jauh lebih menyayangi saya... girly... feminin... simple... lovable... humoris... unique... adaptable... last but not least,,like WEDDING very much..
Read more about Dewi Ratnasari

Comments

© Copyright 2019. trackpacking.com