Luwuk

Posted by : Arzal Zain October 4, 2011 Category : CatPer

Hal yang paling menarik bagi saya tentang Luwuk tentu saja adalah karena tempat kelahiran saya. Kota yang saya tinggalkan di tahun 2003 ini akhirnya bisa saya kunjungi lagi. Banyak kenangan mulai memenuhi benak, dan keinginan untuk melakukan hal-hal yang memang saya rindukan.

Luwuk telah banyak berubah dari yang terakhir saya ingat. Namun beberapa hal tak berubah; dinginnya air yang tak mengenal musim, cuaca dingin yang menggigit saat hujan, dan tentu saja teman-teman lama dengan selera humor yang hebat. Dialek Luwuk yang memang masih kental di lidah saya mulai terdengar akrab di telinga, semakin menambah semangat.

Untuk akomodasi selama di Luwuk saya tinggal di rumah keluarga (hitung-hitung pengiritan), tapi di Luwuk sendiri terdapat banyak penginapan dan fasilitas umum. Begitu juga masalah makan. Tak perlu ragu kalau ingin datang.

Salah satu hal yang sangat ingin saya lakukan adalah makan suntung. Luwuk memang terkenal karena makanan laut yang dihasilkan, tangkapan-tangkapan segar yang sulit didapatkan di tempat lain. Beberapa makanan khas lain yang layak dicoba adalah Pisang Loue dan Lopis. Jika ingin merasakannya sebaiknya datang ke Keles, tempat paling baik yang menyediakannya ditambah pemandangan kota yang menampilkan baik gunung maupun laut.

Pantai Kilo 5

Pantai Kilo 5 terdapat di pinggiran Kota Luwuk. Ombak yang tenang dan air yang jernih mendatangkan banyak wisatawan dan masyarakat sekitar. Selain itu pemandangan kota juga terlihat indah dari pantai ini. Di akhir minggu tempat ini akan sangat ramai, baik yang datang mandi maupun mereka yang datang untuk santai-santai di café-café yang ada. Tapi menurut saya apa gunanya ke pantai jika tak mandi, hal yang memang sering saya lakukan sejak saya kecil di pantai ini.

Batu Tikar

Selain pantai, gunung di Luwuk juga memberikan keasikan tersendiri. Salah satu diantaranya adalah batu tikar. Batu tikar adalah batu yang terbuat dari endapan kapur selama bertahun-tahun. Bukan berbentuk seperti batu yang biasa tetapi lebih merupakan hamparan endapan di aliran air. Menurut saya topografi kemiringan landai yang memungkinkan endapan itu terjadi. Keunikan itulah yang membuat tempat ini layak untuk dikunjungi, meskipun bukan tempat wisata resmi. Untuk mencapai batu tikar harus jalan kaki selama kurang lebih 30 menit, beberapa kali menyebrangi sungai sehingga lebih baik menggunakan sandal, dan hati-hatilah berpijak pada batu yang licin.

Dengan bekal sedikit snack saya dan beberapa orang teman pergi ke batu tikar. Jalan masuk menuju batu tikar adalah melalui kuburan soho (0° 56’ 30,02” S, 122° 47’ 40,53” E), kendaraan bisa dititipkan pada penduduk di sekitar jalan masuk. Kemudian terus ikuti jalan setapak dengan beberapa kali menyebrang sungai. Dalam perjalanan akan ada banyak air terjun yang indah dan salah satunya cukup tinggi dengan jalan menanjak yang cukup curam di sampingnya. Terus ikuti jalan setapak sampai tiba di batu tikar (0° 55’ 59,90” S, 122° 47’ 22,41” E).

 

Catatan:

Harga tiket Palu-Luwuk dan sebaliknya menggunakan minibus, Rp. 200.000. Saya sendiri menggunakan layanan Agen Perjalanan Kesayangan Anda. Perjalanan di tempuh selama kurang lebih 13 jam. Biaya makan di perjalanan rata-rata adalah Rp. 30.000 sekali makan, biasanya dalam perjalanana 2 kali makan.

Batu Tikar

Selain pantai, gunung di Luwuk juga memberikan keasikan tersendiri. Salah satu diantaranya adalah batu tikar. Batu tikar adalah batu yang terbuat dari endapan kapur selama bertahun-tahun. Bukan berbentuk seperti batu yang biasa tetapi lebih merupakan hamparan endapan di aliran air. Menurut saya topografi kemiringan landai yang memungkinkan endapan itu terjadi. Keunikan itulah yang membuat tempat ini layak untuk dikunjungi, meskipun bukan tempat wisata resmi. Untuk mencapai batu tikar harus jalan kaki selama kurang lebih 30 menit, beberapa kali menyebrangi sungai sehingga lebih baik menggunakan sandal, dan hati-hatilah berpijak pada batu yang licin.

Dengan bekal sedikit snack saya dan beberapa orang teman pergi ke batu tikar. Jalan masuk menuju batu tikar adalah melalui kuburan soho (0° 56’ 30,02” S, 122° 47’ 40,53” E), kendaraan bisa dititipkan pada penduduk di sekitar jalan masuk. Kemudian terus ikuti jalan setapak dengan beberapa kali menyebrang sungai. Dalam perjalanan akan ada banyak air terjun yang indah dan salah satunya cukup tinggi dengan jalan menanjak yang cukup curam di sampingnya. Terus ikuti jalan setapak sampai tiba di batu tikar (0° 55’ 59,90” S, 122° 47’ 22,41” E).




Read more about Arzal Zain

Comments

© Copyright 2019. trackpacking.com