Gunung Krakatau

Posted by : Yatz Tzu December 8, 2011 Category : Agenda / Event

Meskipun masih aktif, Gunung Anak Krakatau sudah dihuni tumbuhan dan biota. Kawasan itu merupakan laboratorium alami untuk mempelajari pengetahuan alam, geologi, vulkanologi, dan biologi. Wisatawan bisa mengetahui berbagai gejala alam, seperti proses pembentukan pulau, gunung, dan hutan. Di pinggir pantai, sekalipun tandus, tumbuh pohon seperti cemara, waru, ketapang, kangkung laut, dan alang-alang. Perkembangan vegetasi itu, bahkan terhenti ketika Anak Krakatau meletus pada 1952 dan 1953.
Agak berbeda dari Anak Krakatau, Gunung Krakatau Besar yang tingginya mencapai 2.000 meter sudah hampir seperti cagar alam. Di Pulau Krakatau Besar, terdapat tumbuhan kilangir, cemara, dadap, ketapang, waru, mara, dan cangkudu. Krakatau Kecil (Pulau Panjang), sudah ditumbuhi kilangir, waru, dadap, dan mara. Sampai kini, di Pulau Krakatau Besar dan Kecil, wisatawan sering menemukan biawak  

Gunung Anak Krakatau memang dibuka untuk tujuan objek wisata. Daya tarik Krakatau justru saat kondisi aktif mengeluarkan asap tebal dan debu vulkanik. Meskipun sudah dibuka untuk tujuan wisata, pengunjung tetap harus berhati-hati. Wisatawan hanya diperbolehkan berada dalam radius dua kilometer dari kawah. Bagaimanapun, Anak Krakatau tergolong berbahaya bagi siapa pun yang mendekati. Terkadang, ada juga kesempatan mendaki Anak Krakatau. Izin pendakian yang aman hanya diberikan sampai batas lereng. Pasir hitam dan angin kencang sangat riskan bagi keselamatan pendaki.
Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau biasanya juga sangat berhati-hati memberikan izin kepada wisatawan yang datang. Karena itu, wisatawan yang berminat ke kawasan Anak Gunung Krakatau, dipersilakan berangkat Banten (PANTAI CARITA). Pada status waspada seperti Agustus 2008, letupan debu dan kerikil panas Krakatau tentu berbahaya bagi siapa pun. Tetapi, banyak wisatawan yang justru tertarik dengan sensasi gunung krakatau ini.




Read more about Yatz Tzu

Comments

© Copyright 2019. trackpacking.com