Episode Lampung : Way Kambas 2, Siapa Berani Lawan Dugul?

Posted by : Kurniawan Aji Saputra January 20, 2014 Category : Keliling Sumatera Luar Dalam

Dibalik serunya kandang gajah tempat gajah terlatih bermukim ada konflik seru berkepanjangan antara gajah dan warga di beberapa desa lingkar kawasan konservasi. Saya katakan seru karena konflik ini seakan jadi mainan. Gajah mainin warga dan warga mainin gajah.

Gambaran besarnya begini, gajah-gajah liar di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) yang jumlahnya lima ratusan itu sering keluar dari wilayah konservasi menuju kawasan pertanian warga. Motif gajah-gajah itu keluar terutama mencari makanan “lezat” berupa tanaman padi dan jagung, terkadang geng gajah yang keluar sebanyak 40 gajah lebih. Gajah ini hidungnya hebat, mereka bisa cium kalau padi jagung sudah mau panen.

Tentu saja petani marah. Sudah lama menanam, eh pas giliran panen malah dimakan gajah. Itu bukan semusim dua musim, tapi bertahun-tahun. Sang gajah tidak merasa bersalah karena gajah merasa itu memang jalurnya lewat, jadi apa saja yang ada di jalurnya jadi haknya. Lagipula, apa ada hewan yang bisa merasa bersalah?

Hampir setiap malam, para petani berjaga di gubuk-gubuk khusus penjagaan gajah. Mereka sudah ahli dalam menggiring gajah liar. Mereka sudah kenal betul tabiat gajah. Dan mereka sudah kenal dengan para artis gajah: Dugul dan Buntung. Artis gajah artinya bukan orang-orang yang berani dengan gajah, tapi gajah-gajah yang sudah sejak lama menjadi gajah-gajah yang paling ditakuti.

Mereka sendiri yang menamai para artis gajah itu. Dugul dalam Bahasa Jawa artinya Jenong, begitulah kenapa dia dinamai Dugul. Sedangkan si Buntung dinamai demikian karena dia tidak punya ekor. Si Dugul adalah seekor gajah nunggal (gajah yang hidup tidak berkelompok, tidak ada kawan sama sekali). Badannya paling besar, bisa dibilang dialah rajanya Lampung Timur. Sedangkan si Buntung adalah pemimpin kelompok gajah terbesar, 42 ekor gajah yang kesemuanya betina, sehingga sering disebut rombongan ibu-ibu PKK.

Masalah semakin rumit akibat warga merasa gajah keluar itu karena kurangnya patroli dari pihak polisi hutan, malah tidak ada sama sekali. Warga melulu yang menggiring gajah kembali ke hutan, bukan petugas patroli. Sementara polisi hutan merasa tenaganya kurang. Luasan taman yang mencapai 125 ribu hektar begitu mana sanggup dijaga oleh hanya 60 orang?

Petani disarankan untuk menanam tanaman yang tidak disukai gajah seperti cokelat atau karet. Beberapa petani memang sudah beralih, tapi itu tidak mudah bagi kebanyakan petani yang hanya punya luasan kecil.

Mereka kesal tapi tidak berani membunuh gajah-gajah liar itu. Paling banter, mereka menggiring gajah-gajah itu ke kampung sebelah, lalu sebelahnya lagi, sebelum benar-benar digiring masuk ke hutan. Maksudnya biar orang-orang di kampung sebelah ikut marah. Semakin banyak yang marah akan membuat suara semakin kuat, ya kan? Maksud lain, itu sengaja dilakukan supaya petugas bingung.

Jadi, gajah terus menerus merusak tanaman warga, warga selalu menyalahkan polisi hutan, dan polisi hutan merasa itu bukan kesalahannya. Berputar saja di situ masalahnya.

Saya bicara semalaman dengan Karman, seorang petinggi TNWK. Berikut sedikit kutipannya:

Kenapa sih gajah-gajah itu suka keluar kawasan konservasi?

“Satu gajah itu kan perlu wilayah 400 hektar. Gajah-gajah itu merasa daerah yang sudah jadi perkampungan itu memang jalur mereka.”

Tapi teman saya di Taman Nasional Bukit Barisan gak ada tuh cerita gajah keluar kawasan?

“Karena areal habitatnya belum terganggu betul. Keluasannya masih tercukupi.”

Kalaupun memang dia merasa itu jalurnya, tetap gak mungkin gajah sampai simpang H (nama suatu tempat di Way Jepara) kan?

“Wah kalau itu sih karena digiring sama warga, bukan karena gajahnya mau ke situ. Gajah digiring ke kampung-kampung lain. Tentu ada yang diuntungkan dari kejadian itu kan.”

Mungkin begitu, mungkin tidak begitu. Makanya besoknya saya pergi ke desa yang sering ada konflik dengan gajah.

Namanya Desa Braja Asri, salah satu desa yang sering dilewati –saya risih bilang diserang- gajah liar. Seorang wanita penjaga warung yang punya banyak anggota keluarga penanam padi jagung berkomentar dengan kesal, “Gak ada. Gak ada dari pemerintah. Gak ada tanggapan!”

Saya masuk lebih dalam lalu bertemu Sugianto, petani yang sudah biasa ikut ronda jaga gajah. Mereka biasanya menggiring gajah menggunakan senter, api dan pecut.

Respon gajah kalau digiring itu gimana pak?

“Kalau digiring kadang ada yang nurut kadang ada yang nguber (mengejar). Berani enggak berani. Sampeyan mungkin kaki bisa begini (bergetar), melihat gajah saking banyaknya.”

Kalau dikejar, kita harus gimana?

“Kalau dikejar gajah laki itu kita beloknya kiri, kalau kanan dia yang menang. Sebaliknya kalau gajah betina ngejar, kita beloknya ke kanan. Dilihat sekilas saja kalau sudah biasa sudah gampang bedain mana jantan mana betina.”

Lari ke pohon aman ya pak?

“Wah gak bisa. Pohon kelapa aja roboh sama Dugul diseruduk. Larinya kencang tapi gak kuat lama, paling lama 10 menit.”

Sepuluh menit mah kita udah mati duluan pak?

“Ya kan kita punya akal, bisa lari belok-belok. Dia kan lari lurus terus, cuma bisa belok searah.”

Kalau Dugul datang gimana pak?

“Dugul itu badannya paling besar. Badannya jelek, kepalanya jenong. Kalau sudah tahu Dugul datang, kita hati-hati aja. Gak bisa lari, kalau lari sawahnya habis dimakan. Jadi kita giring, paling dekat 20 meter lah. Dia itu kalau nyebrang kali yang lebarnya 8 meter, itu gak kedengaran. Sama gubuk jaga kita 10 meter itu gak kedengaran.”

Jaga gajah itu tiap malam?

“Kalau kita berani tanam 3 bulan, berarti siap jaga malam 3 bulan. Siap ninggalin bini 3 bulan. Makanan diantar. Gak ada enaknya petani itu. Gak tahulah pemerintah itu, hewan segitu gedenya gak diurusin. Kita susah petani di sini. Mau kita bunuh gak boleh, gak dibunuh jadi hama.”

“Kalau petani masuk daerah kawasan, ditangkap, dihukum, didenda. Kan ada petani kita nangkap ikan di dalam itu habis 22 juta, buat keluar aja itu, setelah dipenjara 5 bulan. Kalau gajahnya ke sini makan padi gak diganti rugi gak dipenjara. Manusia sama gajah lebih berharga gajah. Pikir-pikir ya emang iya, lebih berharga gajah sama manusia.”

Obrolan berakhir. Sesuai rekomendasi, saya datang ke Sumanto atau biasa dipanggil Mbah walaupun masih muda. Mbah ini sudah jago betul dengan gajah.

Dugul apa kabar Mbah?

“Waaah, pusing saya sama Dugul tu. Dibelor (disenter lampu sorot) dia berhenti, lima menit kemudian sudah hilang lagi dia kalau tidak dibelor.”

Kalau gajah itu digiring ke kampung lain, kampung lain itu kena juga kan?

“Ya kena juga, ikut rusak. Biar ikut bantu kita. Makanya bulan 7 tahun 2010 kan saya dipanggil ke Jakarta karena dianggap provokator. Dibilang sama Pak Menteri gajah itu bukan hama bukan penyakit. Langsung saya potong, itu perusak tanaman petani pak. Petani Lampung Timur itu bukan perambah. Mereka asli trans tahun 57.”

“Saya dibilang provokator ya biarin lah. Saya ini membela masyarakat. Karena maaf ngomong, dari polhut itu gak ada partisipasi. Polhut gak mau bantuin. Sebetulnya kita mau bunuh gajah itu ada jalan, tapi karena takut hukum, kan ada undang-undang.”

Jadi enaknya solusinya antara warga dan TNWK gimana?

“Saya sering kali buat rapat, yang datang itu selalu wakil bawahan, percuma kan! Kalau kita ngobrol bareng di meja kan kita bisa ngajak jaga bareng-bareng. Katakanlah seminggu satu atau dua kali.”

“Orang sini itu paling enak. Kalau orang Labuan Ratu (nama wilayah yang sering diganggu gajah TNWK juga) itu, saking kesalnya, besi diselimuti karung, dibakar, ditancapkan ke gajah, sampai bunyi cess cess. Saya tahu sendiri orang Labuhan Ratu. Gajah luka tapi gak mati. Padahal labuhan ratu dekat pos PLG, tapi gak mau bantu.”

Kalau si Buntung apa kabar pak?

“Rombongan si Buntung itu rombongan ibu-ibu loh. Gak ada gadingnya semua. Kadang-kadang saya dengan kawan di Way Bungur itu, hey rombongan PKK udah datang. Cuma si buntung aja yang jantan.”

“Preman gajah sekarang tinggal Dugul dan Buntung, dulu ada Semper dan Jambul, sudah gak pernah kelihatan, entah mati entah lah.”

Dulu Semper sama Jambul preman juga?

“Wah itu, ampun deh.”

Udah bisa kenal ya Pak?

“Ya sudah, sekali lihat sudah tahu, wah itu Dugul, itu Buntung. Kalau si Dugul itu santai aja dia. Tiba-tiba udah di tengah. Waduh kelakuan Duguuul.”

Biasanya keluar jam berapa mereka?

“Kalau yang rombongan itu hampir selalu habis maghrib. Kalau yang cuma 1-2 gajah itu kadang jam 1 malam kadang jam 2 malam.”

“Saya pernah dikerjain. Rombongan sudah digiring balik ke hutan. Jam dua malam, karena sudah sepi, saya pulang. Pagi-pagi sudah habis satu setengah hektar padi saya. Jadi ternyata rombongan yang itu balik lagi.”

Cepat amat?

“Wah, kalau lari itu mereka seperti motor atau mobil tapi gak ada suaranya. Lari di belukar itu gak ada suara.”

Seru banget ya Mbah. Lain kali boleh gak saya ke sini lagi ikut lihat giring gajah?

“Ooh silakan, telepon saya aja.”

 



Web programmer Kontan (Koran bisnis mingguan. Memuat berita investasi, keuangan, data pergerakan saham, dan trend bisnis) and Backpackin Magazine (Majalah Backpaker Indonesia) . Taking great interests
Read more about Kurniawan Aji Saputra

Comments

© Copyright 2019. trackpacking.com