Episode Lampung : Way Kambas 1 Pawang Bicara

Posted by : Kurniawan Aji Saputra December 27, 2013 Category : Keliling Sumatera Luar Dalam

Sangat bersyukur saya kenal dengan Erwan, salah satu polisi hutan –sebut saja begitu- di Way Kambas. Jadi saya bisa masuk ke dalam kawasan PLG (Pusat Latihan Gajah) dengan gratis dan tentunya dapat banyak cerita tentang gajah.

Sekitar jam delapan pagi saya sudah sampai di kandang gajah. Salah kalau ada anggapan bahwa kandang gajah adalah sebuah bangunan super besar dengan atap super lebar. Salah besar! Kandang gajah adalah hamparan lapangan rumput tanpa atap. Ya sudah, begitu saja. Gajah yang katanya sudah jinak itu diikat ke sebuah patok besar. Satu gajah satu patok dan wilayah lingkar patok itu harus berjauhan supaya tidak saling berkelahi.

Walau diikat begitu, tetap saja setiap malam harus ada piket ronda bergilir. Piket menjaga gajah! Apa masalah? Terkadang gajah-gajah itu suka lepas ikatannya. Walau sudah pakai rantai besi tebal begitu, tapi “kalau mau”, gajah bisa dengan mudah melepaskan ikatannya.

Saya tanya lebih dalam ke Erwan, jadi buat apa pakai rantai kalau begitu? “Sebetulnya rantai itu buat pengingat mereka saja. Gampang saja mereka kalau mau lepas, tapi mereka sudah sadar bahwa mereka sudah tidak liar lagi. Nah, rantai itu buat menyadarkan kalau mereka tidak sadar.” Perlu dironda juga karena terkadang gajah-gajah liar datang mengganggu. Gajah liar suka belagu dan mengajak ribut.

Ada sekitar 63 gajah yang ada dalam kandang. Saya diajak mendekat ke salah satu gajah kecil umur 2 tahun. Tingginya kira-kira seperut saya. Walau lebih pendek, tetap saja dia gajah dan pasti saya kalah kalau berantem. Jadi saya jaga jarak.

Erwan meyakinkan saya, tidak apa-apa mendekat. Saya terpengaruh, saya mendekat, dan saya sukses diseruduk! Untung gadingnya belum terlalu besar dan tajam. Tapi lumayan juga diseruduk gajah. “Itu dia ngajak main,” kata Erwan santai. Huh!

Setelah datang pawang aslinya (Erwan bukan pawang), saya baru berani mendekat lagi. Si gajah cilik betul-betul jinak kalau ada di sebelah pawang. Disuruh angkat belalai buat gaya foto, dia langsung angkat belalai. Mantap!

Setiap hari, pawang harus ngangon gajahnya. Iya ngangon, istilah yang mereka pakai memang ngangon, ngangon gajah! Intinya mengajak si gajah mencari makan. Kalimat yang saya tunggu-tunggu akhirnya keluar juga dari sang pawang, “Mau ikut naik?”

Oh, tentu…

Gajah (bukan yang kecil tadi) disuruh turun, saya dengan mudah naik memanjat kaki dan perut gajah. Agak risih awalnya dengan bulu-bulu mereka yang panjang-panjang, kira-kira 10 cm. Saya takut pantat saya yang tipis bikin gajah ngilu dengan tulang-tulang duduk saya. Tapi gak apa-apa tuh katanya.

Jadilah saya ikut ke tempat mereka minum. Sampai puas minum baru ke lapangan rumput. Sesekali sang gajah berhenti mencoba menarik rumput di sekitarnya, tapi sang pawang langsung menyuruhnya terus berjalan. Sepertinya sang gajah betul-betul kelaparan. Kalau kata Erwan, memang sejatinya gajah itu tidak berhenti makan.

Wih, puas rasanya bisa ikut ngangon gajah. Kalau di tawaran wisatanya, naik gajah keliling satu lapangan kecil itu Rp 10 ribu. Saya ikut ngangon ke mana-mana gratis. Hehe.

Pak Dani, pawang berpengalaman belasan tahun yang mengajak saya keliling, sempat saya wawancarai waktu masih di atas gajah (dan saya ketar-ketir karena berasa mau jatuh). Selama wawancara, Pak Dani sesekali kasih aba-aba “mundur!”, “pelan!”, “diam!”, “turun!” terkadang diperkuat dengan pukulan ganco, sejenis palu berbentuk paruh yang digunakan untuk menggetuk kepala gajah. Berikut wawancaranya:

Awalnya kok bisa ada 63 yang dilatih begini gimana?

“Dulu kan konflik gajah dengan masyarakat itu besar betul. Pemerintah ambil keputusan untuk menangkap gajah-gajah itu, terus dilatih. Sekarang program itu gak ada lagi karena konflik juga sudah menurun. Jadi kalau ada konflik, gajah liar dievakuasi lalu dibalikin ke hutan lagi.”

Dulu gajah awal bapak bukan yang ini pak (yang sedang kami tumpangi)?

“Bukan, yang itu tuh..”

Berarti bapak pegang beberapa gajah dong?

“Nggak, hari ini kawan kan libur, saya gantikan.”

Ooh, saya pikir beda pawang gak mau?

“Ada yang mau ada yang gak mau.”

Dulu trainingnya di mana pak?

“Di sini, enam bulan. Tapi sebelumnya teori dulu tiga tahun.”

Ada cerita seru tentang gajah?

“Kalau waktu kawin ganas dia. Harus diturunkan kondisi badannya, dikurangi makanannya. Kalau hasratnya gak terlalu tinggi, bisa disalurkan (maksudnya dikawinkan). Kalau sudah terlalu tinggi, harus dikurangi makanannya.”

Memang gajah itu harus dimandiin setiap hari begini pak?

“Ya memang aslinya gajah itu sering mandi. Dia kan gak tahan panas. Yang liar itu berkubang juga.”

Jadi bapak lebih lama sama gajah daripada sama istri ya?

“Haha. Iya. Bisa dibilang gajah itu istri pertama.”

Gadingnya itu sengaja dipotong ya pak?

“Iya, sejak mulai dilatih sudah langsung dipotong, kalau sudah runcing ya dipotong lagi. Tapi potongnya sedikit saja asal tidak bikin bahaya. Dia kan sama kawannya sering melukai, lama sembuhnya.”

Penyakitnya banyak gak pak gajah ini?

“Sama seperti manusia, flu, mencret. Itu gajah saya sudah dioperasi tumor tiga kali.”

Kalau ketemu gajah liar, kita harusnya gimana pak?

“Gajah itu kalau dari jauh sudah melihat manusia dia akan pergi. Tapi kalau dia kaget, pasti dikejar. Kalau bisa naik pohon ya naik, kalau gak bisa ya kelilingi aja pohonnya.”

Cara nangani gerombolan gajah liar kalau masuk perkampungan warga itu gimana pak?

“Ya giring aja. Yang susah itu kalau gerombolan gajah liar itu ada anaknya. Pasti anaknya dilindungi.”

Kotoran gajah yang ada di kandang itu dikemanain pak?

“Dibuang setiap hari, ada petugasnya sendiri.”

Dari kotorannya bisa dilihat gak sih dia sakit atau enggak?

“Memang justru dari kotorannya. Kalau sakit kotorannya itu gak bisa bundar.”

Kalau buat atraksi bapak ikut tampil ya?

“Ikut. Pakai gajah yang kecil, kalau yang besar sudah berat.”

Sering ya gajah itu diangkut buat atraksi ke mana-mana?

“Iya. Habis itu dibalikin lagi.”

Berarti film-film itu ngambil dari sini dong pak?

“Iya. Kemarin ada yang dari Jakarta. Saya bawa ke ancol juga pernah.”

Gajahnya masuk kapal ferry donk?

“Iya.”

Gak stress itu pak?

“Kalau udah jinak enggak. Malah dia bisa naik mobil sendiri. Kita suruh naik, dia naik.”



Web programmer Kontan (Koran bisnis mingguan. Memuat berita investasi, keuangan, data pergerakan saham, dan trend bisnis) and Backpackin Magazine (Majalah Backpaker Indonesia) . Taking great interests
Read more about Kurniawan Aji Saputra

Comments

© Copyright 2019. trackpacking.com