Forgot Password?
|

Episode Lampung : Kereta Rajabasa, Ini Kereta Sumatera?

Posted by : Kurniawan Aji Saputra January 28, 2014 Category : Keliling Sumatera Luar Dalam

 

Walaupun banyak orang yang wanti-wanti, Lampung dan Sumsel itu keras, lebih keras dari Medan, tapi saya biasa saja. Saya tetap cuek masuk terminal dan stasiun.

Hal pertama yang selalu saya lakukan kalau sedang berada di angkutan-angkutan umum adalah kenalan dengan orang-orang di sekeliling. Saya masih yakin kok, walaupun memang orangnya jahat, kalau first impression-nya baik, bakal jadi kawan juga.

Senyum lebar, julurkan tangan (kalau ke wanita, saya tidak julurkan tangan), “Saya Iqbal.” Biasanya dibalas dengan juluran tangan dan senyum juga, tapi tidak menyebutkan namanya. Iya, saya tahu kebiasaan menegur orang asing itu bukan lazim, apalagi di Sumatera.

Ngomong-ngomong soal menegur, sebetulnya “menegur” di Lampung tidak selalu diartikan positif. Kawan saya berpesan, kalau di terminal atau stasiun ada yang tanya macam-macam, diamkan saja.

Suatu waktu, saya masuk terminal Rajabasa di Lampung dan tidak mempraktikkan saran kawan saya itu. Selalu ada saja yang tanya, mau ke mana? Dan saya selalu jawab Jepara (waktu itu mau ke Way Jepara untuk kemudian lanjut ke Way Kambas). Jalan sedikit ditanya lagi. Sampai berkali-kali. Apa perlu saya pasang tulisan “Jepara” di jidat?

Akhirnya saya malas jawab. Sekali seorang tukang ojeg -penampakannya begitu- tanya hal yang sama. Saya diam. Ditanya lagi, saya tetap diam tak menggubris. Dia kesal, “Kalau ditanya itu jawab!” dengan nada tinggi sampai saya jadi artis terminal beberapa detik. Kalau ada helm, pengen rasanya langsung saya pakai.

Kali ini saya mau coba pakai kereta dari Lampung ke Prabumulih. Sebetulnya tidak ada apa-apa di Prabumulih, tapi kereta yang langsung ke Lahat, tujuan saya, itu tidak ada. Harus berhenti di Prabumulih, baru ada kereta ke Lahat dari arah Palembang lewat Prabumulih.

Malam sebelumnya saya mampir sebentar ke Stasiun Tanjung Karang (Bandar Lampung) buat cari informasi waktu keberangkatan dan buka loket. Kereta Rajabasa yang tujuan akhirnya Palembang dan harga tiketnya cuma Rp 15 ribu itu berangkat pukul 8.30. Terus, kapan buka loketnya? “Waaah kalau mau dapat tiket harus antri dari jam 5 mas,” kata seorang kuli berseragam.

Percaya sih, karena sekitar sebulan sebelumnya, semua kereta lintas Jawa ditegaskan dengan aturan baru bahwa tiket berdiri dihapuskan (jadi ada batasan tiket) dan tiket boleh dipesan seminggu sebelumnya. Jadi kalau saya bermaksud ngantri pas hari H keberangkatan, itu gila namanya.

Dan saya juga tahu bahwa di tiap stasiun, walaupun dibilang tiketnya habis, masih ada jatah buat hari H, walaupun jumlahnya sangat terbatas. Si kuli menawarkan jasanya mendapatkan tiket dengan harga Rp 30 ribu. Okay, deal!

Besoknya saya diminta datang 7.30, sejam sebelum keberangkatan. Saya datang jam segitu, tapi tiket belum juga datang. Sampai 8.30 tiket belum juga datang. Padahal tadi ada orang yang baru antri tiket 7.30 sudah pegang tiket. Berkali-kali si kuli datang mencoba menenangkan saya, “Meneng wae, pasti dapat.”

Meneng wae! Meneng wae! Kareta di jadwal 8.30, ini sudah 8.40 saya belum pegang tiket!

Beberapa supir mobil plat hitam sudah menggoda saya ke Prabumulih sampai tempat yang dituju itu Rp 100 ribu. Itu bisa jadi alternatif kalau memang si kuli rese.

Menjelang jam 9 saya baru dapat tiket. Saya baru tahu di sini keretanya sudah membiasakan telat berangkat dan telat sampai. “Telat sampai” di sini sangat abstrak. Si kuli bilang sampai Prabumulih biasanya jam 4 sore, paling telat jam 5. Ternyata saya sampai 7.30 malam! Orang-orang yang biasa naik kereta Rajabasa ini juga bilang kereta ini jadwalnya amburadul.

Saya naik langsung ke tempat duduk jatah saya. Seperti biasa, saya kenalan dulu dengan orang-orang di sekitar tempat saya duduk. Mereka semua bicara bahasa Jawa! Ini saya lagi ada di kereta Sumatera atau Jawa sih?

Memang banyak orang yang tinggal di Lampung-Sumsel ini berasal dari Jawa atau keturunan Jawa. “Mereka (orang-orang Jawa) biasanya baik-baik, berbeda dengan orang-orang asli Lampung dan Palembang,” kata teman saya biar saya jaga-jaga.

Kebetulan setelah setengah jalan, teman duduk saya berganti dengan orang asli Lampung. Dia malah mengiyakan bahwa orang Lampung dan Palembang itu banyak yang jahat.

“Kalau 10 baik 3 (yang baik 30%) sudah Alhamdulillah. Apalagi di terminal-terminal bis kereta. Kalau Sumatera itu harus tegas, kalau melongok-longok dikira orang gak melawan.”

Saya pernah dengar orang itu biasa bawa pisau ya?

“Kalau yang di kota itu enggak, tapi kalau daerah Kabupaten itu, pisau rakitan dah jadi mainan orang. Biasa ditaruh di pinggang. Bukan bagusin diri, saya gak bawa pisau lagi. Kalau ada yang bawa badik (pisau belati bermata satu, kecil tapi panjang) nah racun itu.”

Kenapa begitu ya?

“Sebab mudah panas, dia gak mau ditindas, mau nindas. Seandainya ada yang cekcok, langsung tujahan (saling tusuk) itu lah..”

Saya pribadi sih tidak terlalu percaya dengan statement itu. Toh di dalam kereta ini saya ketemu dengan orang asli Lampung. Mereka baik kok, seperti layaknya penumpang biasa, saling berbagi makanan dan minuman, saling suka cerita macam-macam. Kemarin juga di Way Kambas saya kenalan dengan seorang pemuda asli Lampung. Dia welcome banget kok. Saya sempat makan mangga dan dibuatkan minuman di rumahnya.

Ohya, tentang makanan dan minuman, saya punya banyak cerita tentang penjaja makanan yang bolak-balik di sela-sela kursi penumpang.

Pedagang di dalam kereta ini sangat malas ngomong. Banyak yang ngomongnya pelan-pelan banget. Sudah ada di sebelah saya baru ngomong, “Nasi?” Ada yang suaranya keras tapi cuma sepatah kata, “Laang.” Sudah, gitu doang. Sudah lewat baru saya tanya ke tetangga, itu dia jualan apa sih? Oo kemplang toh. Saya baru sadar penjual tadi bawa seplastik besar kerupuk sebesar-besar piring dan sebotol sambal.

Itu masih mending ketimbang beberapa pedagang yang lewat begitu saja. Ambil contoh penjual tahu. Dia bawa dagangan tahu yang sudah rapi dibungkus tapi sama sekali tidak ngomong. Kelihatannya penumpang sini juga terbiasa dengan pedagang begitu, jadi malah pembelinya yang manggil, “Tahuuu!”

Biasanya yang agak tidak malas ngomong itu pedagang perempuan. Misalnya si penjual petai yang teriak-teriak, “Yuk pete, oleh-oleh yuk.. Nafsu makanan.” Tapi sepanjang 10 jam perjalanan, saya cuma ketemu lima pedagang wanita, masing-masing menjual peyek, kipas, petai, telur asin, dan mangga.

Makanan berat di kereta itu cuma ada tiga pilihan: nasi ayam, nasi rendang, dan nasi ikan. Harganya antara Rp 10 ribu - Rp 12 ribu. Kebanyakan orang lebih pilih turun di stasiun waktu kereta berhenti, lalu beli nasi di warung-warung stasiun. Di situ menu lebih variatif, ada nasi pecel (Rp 5 ribu), nasi ayam (Rp 15 ribu), nasi ikan laut (Rp 10 ribu), nasi ikan darat (Rp 12 ribu). Alasannya lebih banyak pilihan dan lebih “terjamin”.

Beberapa pilihan makanan ringan yang sering lewat adalah pop mie (Rp 4.000), macam-macam minuman ringan, peyek, tahu (Rp 500 isi 4), kacang, lemang (makanan yang berbahan beras pulut bersantan; Rp 1.000 – Rp 2.000), kerupuk, buah-buahan (rambutan, mangga, semangka, jambu, dsb), dan pempek (Rp 3.000)! Inilah dia yang membuat saya baru berasa ada di dalam kereta Sumatera, Pempek!

Penjual pempek, satu tangannya memegang wadah aluminium isi pempek, satu tangan lagi memegang keranjang sejirigen kuah, plastik, dan pernak-pernik lain. Pempeknya itu sekilas mirip siomay, tidak terlihat ada yang jenis lanjar (silinder panjang).

Yang paling koboy adalah penjual pop mie, penjual terbanyak di kereta Rajabasa. Tangan kanannya pegang termos, tangan kirinya pegang keranjang isi pop mie. Banyak yang tidak bawa keranjang sama sekali, dia cuma bawa kardus pop mie isi pop mie. Jadi seakan-akan jualannya itu tidak niat. Cuma modal setermos air panas, dia beli sekardus pop mie, langsung masuk kereta. Koboy kan!

Yang saya perhatikan, mereka tidak turun sebelum dagangan mereka ludes. Saya lihat beberapa pedagang pop mie ikut dari Tanjung Karang. Saya ngobrol dia jualan, saya baca majalah dia jualan, saya tidur tidak tahu dia jualan atau tidak, saya bangun sejam kemudian dia masih jualan!

Beberapa kali pengamen masuk, tapi semua nyanyi lagu Indonesia. Saya kan mau dengar lagu bahasa sini. Ada sekali yang nyanyi bukan Bahasa Indonesia. Setelah bubar, saya tanya sebelah saya yang asli Lampung dan sering bolak-balik Palembang, itu tadi bahasa apa bang? “Tak tahu,” jawabnya singkat. Bahasa Lampung? “Bukan.” Palembang? “Bukan.” Mungkin ini yang namanya bahasa yang bukan-bukan.

Hal paling menyebalkan di kereta ini adalah sifat mengalahnya yang keterlaluan. Setiap ada kereta lain, kereta saya yang selalu mengalah. Sama kereta bisnis dia mengalah. Sama kereta batu bara dia mengalah. Kereta batu bara ini juga menyebalkan. Sekali lewat itu ada 45 rangkaian! Dua di antaranya lokomotif. Mungkin ada 10 kali dia lewat.

Suatu kali, ada ribut-ribut. Seorang ibu tidak mau pindah dari bangkunya yang sebetulnya itu bukan jatah dia. Memang dia punya nomor bangku, tapi bukan di situ. Dia kekeh, “Sama saja yang penting punya nomor bangku!” Orang yang ditempati jatahnya menempati jatah orang lain lagi dan ini beruntun. Yang rumit, ada beberapa orang tanpa nomor bangku ikut duduk, dan mungkin pura-pura tidak dengar.

Akhirnya ada seorang pemuda yang ngalah. “Ya udah, aku ngadek (Bahasa Jawa artinya berdiri), emang cowo biasa ngadek.” Penumpang pada ketawa. Saya perkirakan, ibu itu mau ketawa tapi ditahan.

Buat saya yang baru pertama kali naik kereta Sumatera, pengalaman ini seru banget. Tapi buat orang Lampung sebelah saya ini, cuma ada pandangan luas kebun karet, kebun sawit, kebun kelapa, kebun karet lagi dan kebun karet lagi. Dan sesekali mengambil napas panjang, “Huuh, ini kapaaaan sampe?”



Web programmer Kontan (Koran bisnis mingguan. Memuat berita investasi, keuangan, data pergerakan saham, dan trend bisnis) and Backpackin Magazine (Majalah Backpaker Indonesia) . Taking great interests
Read more about Kurniawan Aji Saputra

Comments

About us

Trackpacking.com adalah social network dimana kamu dapat sharing foto, cerita, peta, komunitas dan perjalananmu pada teman-teman. Dan kamu juga dapat melihat peta, track, hobi, foto, komunitas atau perjalanan dari orang lain. Ayo bergabung!
Copyright 2017. trackpacking.com

Subscribes