Batik untuk Indonesia : Batik Solo

Posted by : Dewi Ratnasari December 16, 2011 Category : Belanja

 

Hari batik memang sudah lama berlalu, tapi tak ada salahnya kita selalu sadar akan keberadaan batik sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia. Batik yang memang sudah diakui Unesco sebagai salah satu warisan budaya ini memang patut kita banggakan. Nah, banyak orang khususnya orang Indonesia yang kenal batik, tapi apakah mereka tahu lebih dekat tentang batik ini?
Batik di Indonesia memang sangat bervariatif baik dari segi warna, corak, dan bentuknya. Hal ini dikarenakan perbedaan pengaruh yang terjadi di setiap daerah. Bukan hanya Solo dan Jogja yang punya batik, daerah-daerah lain seperti Pekalongan, Garut, Cirebon, Cianjur, dan beberapa daerah lain di Indonesia pun memiliki batik dengan ciri khasnya sendiri.

Batik Solo
Batik Solo mungkin menjadi batik yang paling familiar baik itu di kalangan orang Indonesia maupun turis asing. Maklum saja, Solo memang bisa disebut gudangnya batik. Menurut sejarahnya, batik Solo sudah ada terlebih dahulu sebelum batik Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi membawa batik-batik dari Kasunanan Solo sebagai dasar untuk menciptakan batik Yogyakarta.
Namun,  ada ciri khas yang jauh berbeda antara Batik Solo dan Batik Yogya. Kain batik Solo berwarna coklat soga kekuningan. Pada coraknya, tak ditemui warna putih. Motif batik Solo yang paling terkenal adalah sidomukti.


Bagi orang awam, mungkin mereka bisa menganggap kalo batik Solo dan batik Yogyakarta identik atau malah sama. Hal ini karena keraton Solo dan Yogyakarta memang bersaudara. Namun ternyata motif batik Solo dan Yogyakarta berbeda. Konon, sikap politik yang berbeda dari pihak keraton Solo dan keraton Yagyakarta terhadap Belanda memengaruhi karakter batik dari keduanya.
Keraton Yogyakarta yang tegas-tegas menentang pemerintahan kolonial mnghasilkan batik dengan motif dan warna yang tegas pula. Sementara itu, sikap keraton Solo yang pro-kolonial tercermin dari batik yang dihasilkannya. Hubungan dekat dengan pihak Belanda membuat batik Solo terkesan lebih luwes dan bebas. Ragam hiasnya lebih variatif, dan warnanya lebih beraneka. Selain itu, beberapa motif batik Solo juga dipengaruhi filosofi Jawa dan Hindu yang terekam kuat dalam corak-corak batiknya. Maka tak heran jika dalam batik Solo kerap ditemukan corak api, dan binatang.


Solo memang istimewa dengan batiknya, maka tak heran jika Solo sangat mengistimewakan batik. Salah satu yang istimewa dari batik di Solo adalah Kampung Laweyan. Lalu apa hubungannya dengan batik?  Kampung ini sudah dikenal sebagai kampung penghasil batik semenjak abad ke-19. Penduduk kampung ini rata-rata sukses sebagai saudagar batik yang disebut sebagai Gal Gendhu.


Kejayaan para Gal Gendhu bisa dilihat dari arsitektur rumah-rumah di kawasan tersebu yang bercirikan besar bagai istana, dikelilingi tembok tinggi dengan gerbang kayu besar. Meski rumah-rumah bersejarah itu kini banyak berubah menjadi ruko, citra Laweyan sebagai kampung penghasil batik tak memudar.
Selain itu ada juga Museum Batik Kaoeman di Kampung Batik Kauman. Di sini ratusan lembar batik serta alat-alat pembuat batik berusia puluhan tahun dipamerkan di rumah tua khas Jawa. Di dinding kayu museum, berjejer cap-cap batik yang menunjukkan kekayaan ragam hias batik Solo. Masing-masing kain batik yang dipajang diberi label, agar pengunjung mengetahui info tentang batik tersebut. Melalui museum ini, pengunjung bisa mengetahui lebih jauh tentang budaya batik Solo dari masa ke masa.

 

sumber : batikindonesia.com, foto : rumahbatiksolo.com



Tuhan, tolong jangan butakan mata hati saya untuk mengejar sesuatu yang saya ingini tapi terlalu jauh saya gapai. biarkan saya melihat bahwa di dekat saya ada orang yang jauh lebih menyayangi saya... girly... feminin... simple... lovable... humoris... unique... adaptable... last but not least,,like WEDDING very much..
Read more about Dewi Ratnasari

You might like:

Comments

© Copyright 2019. trackpacking.com